Sebagian besar sekolah masih melihat dirinya sebagai lembaga layanan pendidikan, bukan sebagai produsen pengetahuan. Padahal di era digital, sekolah memiliki peluang besar untuk menjadi media company—menciptakan konten, membangun audiens, dan memperluas dampak pendidikan melalui platform digital. Ironisnya, peluang ini hampir tidak dilirik, padahal modalnya sudah ada: guru, siswa, aktivitas belajar, dan cerita autentik yang bernilai.
Bisnis media pendidikan tidak harus dimaknai sebagai monetisasi agresif. Justru yang ditawarkan adalah nilai tambah: video pembelajaran, podcast refleksi guru, dokumentasi proyek, webinar, e-book, hingga liputan kegiatan sekolah. Konten semacam ini bukan hanya berguna bagi komunitas internal, tetapi juga bagi masyarakat luas yang haus akan sumber belajar yang kredibel. Ketika sekolah konsisten memproduksi pengetahuan, ia berubah menjadi otoritas edukasi, bukan hanya tempat belajar.
Dari sisi strategi, media pendidikan membuka pintu pada pertumbuhan yang scalable. Satu modul video bisa ditonton ribuan orang; satu artikel bisa meningkatkan reputasi sekolah lebih jauh daripada iklan; satu seri podcast bisa membangun komunitas pembelajar yang loyal. Di dunia digital, atensi adalah mata uang, dan sekolah sebenarnya memiliki banyak bahan untuk mendapatkannya jika mau mengemasnya dengan baik.
Namun peluang ini sering terhambat oleh pola pikir lama: sekolah takut terlihat “komersil” atau merasa membuat konten bukan bagian dari misinya. Padahal yang dibutuhkan bukan komersialisasi, melainkan komunikasi nilai. Media adalah cara untuk memperlihatkan kualitas guru, budaya belajar, inovasi, dan karakter sekolah secara autentik. Dengan storytelling yang tepat, sekolah bukan hanya dikenal, tetapi juga dipercaya.
Pada akhirnya, bisnis media pendidikan adalah strategi masa depan: rendah biaya, tinggi dampak, dan selaras dengan kebutuhan generasi yang tumbuh dalam ekosistem visual. Sekolah yang berani melangkah ke ranah ini akan menemukan bahwa mereka bukan hanya penyelenggara pendidikan—tetapi produser pengetahuan, pencipta narasi, dan pusat inspirasi bagi banyak orang. Di dunia hari ini, itu bukan pilihan, tetapi keunggulan kompetitif.