Edukasi

Cara Sekolah Bertahan di Era Distraksi: Belajar dari Industri Game

Tim Jenama
22 December 2025
Cara Sekolah Bertahan di Era Distraksi: Belajar dari Industri Game
Bermain game

Di era ketika notifikasi, video pendek, dan konten viral berlomba merebut perhatian, sekolah berada dalam posisi paling sulit: bersaing dengan industri yang memang dirancang untuk membuat orang ketagihan. Namun daripada mengeluh, sekolah bisa belajar dari satu industri yang paling ahli mengelola fokus manusia—industri game.

Game bukan sekadar hiburan; ia adalah mesin desain pengalaman yang sangat terstruktur. Mereka memahami psikologi pemain, membangun keterlibatan, dan mempertahankan fokus selama berjam-jam—sesuatu yang bahkan banyak guru sulit dapatkan di kelas. Maka pertanyaannya bukan “bagaimana menghentikan distraksi?”, tetapi “apa yang bisa dipelajari sekolah dari sistem yang mampu memikat jutaan orang?”

Pertama, game memberikan tujuan yang jelas dan terukur. Tidak ada game tanpa quest. Sementara di kelas, tujuan pembelajaran sering abstrak dan tidak relevan bagi siswa. Industri game mengajarkan bahwa orang akan fokus jika mereka tahu kenapa mereka melakukan sesuatu. Sekolah bisa menerapkan prinsip ini dengan merancang tujuan pembelajaran yang lebih personal, kontekstual, dan terasa seperti “leveling up”.

Kedua, game membagi tantangan menjadi tahap kecil yang teratur. Siswa kehilangan fokus bukan karena mereka malas, tetapi karena beban kognitif terlalu besar. Game memahami pola ini dan memberikan progres bertahap, dengan reward yang teratur. Pembelajaran juga bisa dikelola seperti ini: tugas kecil, umpan balik cepat, dan perasaan progres yang nyata. Bukan hanya menunggu angka raport setiap akhir semester.

Ketiga, game membangun rasa pencapaian, bukan hanya penilaian. Game tidak menghukum pemain ketika gagal; ia justru memberikan kesempatan untuk mencoba ulang. Bandingkan dengan sistem sekolah yang sering membuat kegagalan terasa final. Dengan mengadopsi logika game—iterate, retry, improve—kelas akan lebih kondusif bagi motivasi intrinsik.

Keempat, game sangat visual, interaktif, dan naratif. Konten modern menuntut ketiga hal tersebut, tetapi sekolah masih berkutat dengan slide penuh teks. Generasi Alpha belajar lebih cepat melalui visual, simulasi, dan cerita, bukan ceramah satu arah. Industri game membuktikan bahwa storytelling adalah alat fokus terbaik, sesuatu yang bisa diterjemahkan ke metode mengajar.

Pada akhirnya, distraksi bukan musuh yang harus dilawan, tetapi realitas ekosistem kognitif modern. Sekolah yang bertahan bukan yang paling disiplin, tetapi yang paling adaptif—yang mau belajar dari dunia di luar pendidikan. Industri game menunjukkan bahwa mempertahankan perhatian itu ilmu, bukan keberuntungan. Dan jika sekolah berani menerapkan prinsip-prinsipnya, perhatian siswa bukan lagi hal yang sulit didapat, tetapi sesuatu yang bisa dibangun secara sistematis.

Kembali ke Daftar Artikel
Bagikan :

Artikel Lainnya