Banyak pimpinan sekolah mengira digitalisasi dimulai dari belanja perangkat: laptop baru, proyektor canggih, atau jaringan Wi-Fi yang dipaksa tampil megah. Padahal, teknologi hanyalah permukaan dari transformasi yang jauh lebih dalam. Digitalisasi tidak hidup dari benda; ia hidup dari pola pikir, budaya kerja, dan sistem yang saling terhubung. Inilah kesalahan umum yang membuat banyak program digital sekolah gagal bahkan sebelum berjalan.
Digitalisasi sekolah yang sejati dimulai dari problem mapping. Apa hambatan guru? Bagaimana proses belajar berlangsung? Bagaimana data digunakan? Tanpa memahami kebutuhan ini, laptop hanya menjadi hiasan anggaran. Inilah sebabnya banyak sekolah punya perangkat mahal, tetapi tetap mengajar dengan metode lama. Kata kunci seperti transformasi digital sekolah, manajemen sekolah modern, dan strategi digitalisasi pendidikan menjadi sangat relevan—bukan karena SEO, tetapi karena memang inti persoalan berada di sana.
Kesalahan berikutnya adalah mengabaikan pelatihan. Guru sering diperlakukan seperti operator yang langsung bisa menyesuaikan diri dengan teknologi apa pun. Padahal digitalisasi menuntut perubahan kebiasaan, bukan hanya perubahan alat. Pelatihan bukan sekadar “cara menggunakan aplikasi”, tetapi bagaimana teknologi mengubah desain pembelajaran, asesmen, dan cara mengelola kelas. Tanpa itu, perangkat yang canggih hanya menjadi mesin tik modern.
Digitalisasi juga harus memikirkan ekosistem: integrasi data, platform pembelajaran, sistem penilaian, manajemen kelas, hingga keamanan data sekolah. Ketika sekolah membangun ekosistem digital, bukan sekadar membeli perangkat, teknologi mulai bergerak selaras dengan visi. Sekolah menjadi organisasi yang responsif, bukan hanya modern secara tampilan.
Pada akhirnya, digitalisasi bukan proyek belanja, tetapi perjalanan perubahan. Ia bukan tentang seberapa banyak perangkat dibeli, tetapi seberapa dalam cara berpikir diperbarui. Jika pimpinan sekolah mampu melihatnya sebagai perjalanan budaya, bukan proyek hardware, barulah teknologi benar-benar menjadi katalis pertumbuhan, bukan beban anggaran yang berdebu di lemari.