Siswa tidak memilih TikTok karena malas membaca; mereka memilihnya karena formatnya sejalan dengan cara otak modern memproses informasi. Video pendek menggabungkan visual, suara, ritme, dan narasi dalam satu paket yang padat. Modul PDF, sebaliknya, berdiri sebagai teks statis yang menuntut imajinasi tanpa bantuan konteks sensorik. Bukan soal kemauan, tetapi desain pengalaman.
Dalam multimedia, informasi tidak hanya disampaikan, tetapi ditampilkan. Visual memberi contoh konkret, audio memberi nuansa, dan alur yang cepat menjaga fokus. PDF jarang mampu menawarkan itu—ia linear, kaku, dan miskin stimulasi. Sementara platform video memanfaatkan kekuatan storytelling, transisi, gesture, dan ekspresi untuk membuat pesan lebih hidup. Konten yang bergerak lebih mudah dicerna daripada paragraf yang diam.
Generasi Alpha juga tumbuh dalam ekosistem visual. Mereka belajar dari tutorial, meme, animasi, dan video pendek sejak kecil. Pola ini membentuk ekspektasi baru terhadap pembelajaran: informasi harus cepat, jelas, dan langsung terasa relevan. Modul PDF sering gagal memenuhi pola ini karena lebih cocok untuk pembaca yang sudah matang secara kognitif dan disiplin.
Namun bukan berarti PDF harus ditinggalkan. Yang perlu diubah adalah pendekatan. Materi pembelajaran harus diarahkan pada prinsip multimedia: gunakan struktur visual, ilustrasi, potongan singkat, dan narasi yang memikat. Bahkan teks pun harus “berpikir seperti video”—ringkas, berlapis, dan mudah di-scan.
Pada akhirnya, siswa lebih memilih TikTok bukan karena mereka anti-buku, tetapi karena multimedia lebih menghargai cara kerja pikiran manusia masa kini. Tugas sekolah adalah menjembatani, bukan menolak; mengadopsi bentuk baru tanpa kehilangan kedalaman. Karena jika bentuk penyampaian berubah, bukan kualitas belajarnya yang turun—justru peluang pemahaman yang menjadi lebih besar.