Artikel

Ulasan Buku Rework: Mengapa Sekolah Perlu Belajar dari Filosofi Perusahaan Kreatif

Rifky Iqbal
23 December 2025
Ulasan Buku Rework: Mengapa Sekolah Perlu Belajar dari Filosofi Perusahaan Kreatif
Buku Rework

Buku Rework karya Jason Fried dan David Heinemeier Hansson (37signals) dikenal sebagai “kitab suci” perusahaan kreatif: pendek, to the point, penuh counter–intuitive insights yang mengguncang pola pikir kerja tradisional. Tidak banyak orang menghubungkan buku bisnis ini dengan pendidikan, padahal banyak idenya justru sangat relevan untuk sekolah, terutama sekolah yang ingin tetap adaptif di era digital.

Sekolah hari ini menghadapi tantangan besar: perubahan cepat, ekspektasi tinggi, tuntutan inovasi, serta generasi siswa yang berpikir berbeda. Sementara itu, budaya sekolah masih sering lambat, birokratis, dan terlalu fokus pada rutinitas administratif ketimbang kreativitas. Rework menawarkan perspektif segar: cara bekerja yang lebih lincah, lebih manusiawi, dan lebih fokus pada hal yang benar-benar penting.

Berikut beberapa filosofi utama Rework yang seharusnya dipelajari sekolah:


1. “Start Making Something” — Kurangi Rapat, Perbanyak Eksekusi

Sekolah sering tenggelam dalam rapat: rapat kurikulum, rapat evaluasi, rapat event, rapat pembinaan—semuanya panjang tapi sering tanpa aksi nyata.

Rework berpesan bahwa organisasi efektif bukan yang paling banyak rapat, tetapi yang paling cepat mengubah ide menjadi prototipe.

Untuk sekolah, ini berarti:

  • mulai dengan pilot project sebelum membuat kebijakan besar,

  • uji coba kelas digital dulu sebelum beli ratusan perangkat,

  • uji metode mengajar 2 minggu sebelum memasukkan ke RPP setahun.

Eksekusi kecil lebih bernilai daripada dokumen tebal tanpa implementasi.

2. “Planning Is Guessing” — Kurikulum Fleksibel Lebih Adaptif

Sekolah sering terobsesi pada perencanaan jangka panjang: visi 5 tahun, kurikulum rigid, program yang disusun terlalu detail.

Padahal, menurut Rework, perencanaan jauh ke depan hanyalah tebakan berpendidikan—tidak lebih.

Era digital berubah sangat cepat. Kurikulum yang terlalu kaku justru membuat sekolah sulit menyesuaikan diri dengan:

  • perkembangan AI,

  • kebutuhan industri,

  • perubahan minat siswa,

  • teknologi pembelajaran terbaru.

Sekolah perlu budaya continuous improvement, seperti perusahaan kreatif yang merombak prosesnya seiring realitas baru.

3. “Say No” — Tidak Semua Program Harus Diikuti

Banyak sekolah merasa harus:

  • ikut lomba,

  • membuat event besar,

  • membeli teknologi terkini,

  • mengejar akreditasi,

  • mengikuti semua pelatihan.

Dalam Rework, fokus adalah kekuatan utama. Organisasi kreatif selalu bertanya: “Hal apa yang jika dilakukan, memberikan dampak terbesar?”

Sekolah harus berani berkata tidak pada:

  • kegiatan yang melelahkan tapi tidak relevan,

  • program “gaya-gayaan”,

  • pelatihan yang tidak berdampak pada kelas.

Karena energi guru terbatas—dan seharusnya dipakai untuk pembelajaran, bukan formalitas.

4. “Build an Audience” Sekolah Perlu Menjadi Media

37signals bertumbuh dengan membangun audiens melalui blog, konten, dan transparansi proses kerja mereka.

Sekolah juga bisa mengambil pendekatan ini:

  • membagikan praktik baik,

  • merilis konten edukatif,

  • mendokumentasikan inovasi,

  • membuka diskusi dengan orang tua dan masyarakat.

Dengan kata lain: jadi sekolah yang tidak hanya mengajar, tapi juga berbagi.
Ingat: sekolah yang terlihat inovatif adalah sekolah yang bercerita—bukan yang diam.

5. “Culture Is What You Do” — Budaya Sekolah Tidak Bisa Dipaksakan

Buku Rework menekankan bahwa budaya bukan slogan di dinding, tapi kebiasaan nyata.

Di sekolah pun sama.
Budaya disiplin bukan dari spanduk, tapi dari guru yang datang tepat waktu.
Budaya kreatif bukan dari workshop, tapi dari eksperimen rutin dalam kelas.
Budaya digital bukan dari pembelian perangkat, tapi dari kebiasaan guru memanfaatkannya untuk belajar.

Budaya bukan dibangun melalui aturan, melainkan konsistensi perilaku.


6. “Underdo Your Competition” — Sekolah Tidak Harus Menjadi Serba Bisa

Rework menyarankan perusahaan untuk fokus pada kekuatan unik, bukan mencoba meniru semua kompetitor.

Ini relevan untuk sekolah yang ingin:

  • jadi terlalu modern,

  • terlalu lengkap,

  • terlalu akademik,

  • atau terlalu banyak ekstrakurikuler.

Sekolah tidak perlu menjadi semuanya.
Lebih baik dikenal karena satu keunggulan kuat literasi, STEM, seni, karakter, digital daripada menjadi institusi yang serba banyak tapi dangkal.

Kesimpulan: Sekolah Modern Harus Berpikir Seperti Perusahaan Kreatif

Bukan berarti sekolah harus menjadi bisnis, tetapi cara kerja perusahaan kreatif menawarkan efisiensi, ketangkasan, dan mindset yang lebih sesuai dengan zaman.

Rework mengajarkan:

  • fokus pada hal penting,

  • buat keputusan cepat,

  • bangun budaya nyata,

  • jangan terjebak birokrasi,

  • berani sederhana,

  • dan selalu bergerak.


    Jika sekolah menerapkan filosofi ini, mereka tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi institusi yang inspiratif, adaptif, dan relevan bagi generasi masa depan.

Back to Blog
Share:

More Articles